Rabu, 27 Mei 2020

A mother's love

27 Maret 2019.
Di siang hari, Ibu mengirimkan pesan yang mengejutkan.
sebelumnya memang ibu sudah 2 bulan tidak haid, ibu berumur kuranglebih 40 tahun.
menurut banyak dokter kehamilan di usia 40 tahun memang sangat beresiko, dan ini terjadi pada ibu.
Di siang hari, saya mendapatkan pesan bahwa ada darah yang keluar tetapi tidak seperti pendarahan, kira-kira seperti darah haid.
saya khawatir dan menyuruh ibu untuk cekup, karena saya sedang di kota untuk kuliah. jadi saya tidak bisa menemani ibu untuk cekup
ibupun kembali mengabari, dengan pesan yang membuat sayapun bingung. Dokter mengatakan bahwa tidak ada janin maupun kantong janin dalam rahim ibu.
tetapi, ini tidak menjadi hal besar untuk ibu maupun saya. Beberapa minggu kemudian, ibu mengalami pendarahan. ketika saya libur kuliah, saya menemani ibu untuk cekup kembali.
ibu di diagnosa oleh dokter akan segera menopause, dan ini tanda gejala yang pernah dialami oleh pasien pasien yang akan menopause pada umumnya. Disini, kitapun tidak terlalu memperbesarkan masalahnya.
23 September 2019, pukul 01.00 WIB.
cerita dimana akan terus terekam oleh ingatan, saat saya melihat ibu jatuh pingsan tak berdaya di kamar mandi, dengan lantai yang penuh dengan darah. Di pagi harinya, saya membawa ibu ke Rumah Sakit terdekat, ibu dirawat selama 2 hari dan itu hanya mendapat tranfusi darah.
Tetapi itu tak kunjung berakhir, saya harus bolak balik mengantar ibu cekup, tentu menghabiskan waktu dan tenaga. Tetapi, sayapun tau beliau lebih banyak menghabiskan waktu, tenaga bahkan biaya untuk menghidupiku sampai sekarang, cintanya akan tetap sama.
25 September 2019, ibu didiagnosa oleh dokter mengalami Tumor Tropoblas Gestasional Stadium III.
Rasanya seperti kehidupan berhenti seketika. ibu yang mengetahui tentang hal itupun hanya bisa diam dan melamun. Tetapi, kehidupan harus tetap berjalan. Dokterpun memberi jaminan bahwa ibu dapat sembuh dengan cara kemoterapi. Sayapun sedikit tenang karena ada pengobatan yang menjamin untuk ibu sembuh, saya hanya bisa memberikan support dan selalu mendukung agar ibu cepat pulih kembali seperti sedia kala.

Akhirnya, ibu harus menjalani kemoterapi.
sebelumnya saya sudah menginformasikan bahwa ada efek samping yang akan dialami oleh ibu jika menjalani kemoterapi, dan ibu mengatakan siap untuk menerimanya.
seiring berjalannya waktu, kemoterapi yang ibu jalani sebanyak 6x kemo. Efek sampingpun nampak, tak ada rambut, alis, bahkan berat badanpun menurun drastis. Ibu terlihat semakin tua.
tetapi, ibu terus menjalani kewajibannya sebagai seorang ibu, dengan keadaannya, ibu masih mengerjakan pekerjaan rumah, dari pekerjaan ringan sampai yang  berat. saya dan ayahpun sudah melarangnya, namun itulah seorang ibu. dia akan terlihat kuat padahal kita tau bahwa dia sedang merasakan sakitnya.
Sebagai seorang anak, sayapun memiliki penyesalan, untuk hari hari yang telah berlalu karena saya tidak bisa menjaga ibu. Saya pernah melawan ibu, membantah bahkan sampai mengecewakannya.
Sekarang, kewajiban saya adalah membayar rasa penyesalan yang telah lama ada. Harapan ibu dan ayah, saya dapat menyelesaikan kuliah pada tahun ini dengan tepat waktu.
Alhamdulillah, saat ini ibu lebih baik. Berat badanpun sudah kembali dan rambut-rambut yang hilangpun sudah kembali.
untuk kalian, para pembaca.
saya harap ini bisa menjadi pelajaran, tentang bagaimana anda harus menjaga seorang ibu dengan sepenuh hati yang anda miliki. kita tidak pernah tau, apa yang ia rasakan sebenarnya karena ia mampu menutupi kesakitan, kesedihan bahkan lukanya.


Terimakasih
27 Mei 2020



-yourlove